Rujak Mie Palembang Wong Kito



rujak mie palembang

Apa sih salah satu item yang ada di kulkas orang Palembang? hi hi hi ada yang jawab cuko tidak? tepat, begitulah jawabannya. Jadi selagi bisa menyimpan cuko, maka menjadi sangat mudah untuk membuat makanan pendamping si cuko ini. Nah itulah yang saya lakukan, ketika beberapa waktu yang lalu membuat pempek ikan tuna, maka hari berikutnya saya membuat cuko lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Hmmm cuko tersebut saya simpan di kulkas.

Jadi ceritanya kok ingin makan rujak mie ya, rujak mie yang simple saja, yang tanpa pempek. Walaupun memang saya itu seringnya makan rujak mie dengan pempek. Seperti yang pernah saya posting di sini di rujak mie khas Palembang.

Nah yang bukan orang Palembang tentu bingung kan dengan makanan satu ini. Memang makanan satu ini tidaklah terkenal seperti halnya pempek, tekwan atau model. Tapi rujak mie ini juga menjadi makanan selingan yang disukai orang Palembang. Rasanya segar, asam dan tentu saja pedas dan yang tidak ketinggalan mengenyangkan tentu saja.

Nah kalau membuat makanan begini, saya tidak yakin bapaknya Sophie akan suka, jadi supaya aman saya buat saja satu porsi untuk saya sendiri. Kebayang kan kalau membuat banyak, bisa keblenger saya menyantapnya sendirian, mau cari korban yang mau membantu saya, jadi menambah pekerjaan donk.. jadi buat saja sedikit, walaupun saya gatal rasanya ingin membuat banyak he he he...

Membuatnya tentu sangat mudah ya, yang agak lama mungkin membuat cukonya, itu kalau belum ada stok cuko di kulkas. Nah kalau ada stok cuko, tentu tidak butuh lama untuk membuat rujak mie ini, hanya perlu merebus mie telur, menyiapkan tauge dan timun serta menggoreng tahu. Setelah semuanya beres, tinggal disatukan di piring, sikat bikcek..

Aih jadi ingat dengan kata bikcek ini, dulu itu semasa sekolah, sesama kita teman perempuan suka sekali memanggil bikcek. Misalnya saja, ini cakmano bikcek? atau bikcek, jangan cak itu.. jadi sudah sangat lazim mendengar dan mengucapkan kata bikcek ini. Untuk ke teman laki-laki kita menyebutnya mangcek. Nah yang memperhatikan warung-warung pempek sering sekali memakai kata pempek cek liza misalnya, atau cek- cek lainnya nama perempuan. Nah cek ini sendiri saya bingung juga artinya apa he he he... tapi kalau bikcek itu artinya bibi atau tante, nah mangcek itu artinya paman.

Kalau bicara bahasa Palembang, pasti orang yang tidak terbiasa akan mengatakan bahasa Palembang itu kasar he he he, memang sih kasar, tapi bagi sesama orang Palembang ya biasa saja. Misalnya saja sebutan anda, di tempat lain secara umum akan mengatakan kamu, nah di Palembang dengan santainya menyebut kau. Ahai orang yang baru pertama kali dengar pasti sudah mabok mendengarnya, apalagi kalau sempat di kau-kau oleh orang Palembang.

Tapi orang Palembang itu cukup tahu diri kok, begitu sudah ketemu suku lain, akan mencoba tidak menggunakan kata kau itu, kecuali kelepasan he he he... Jadi jangan anggap orang Palembang itu kasar, semua orang disebut kau. Saya sendiri kakak beradik, sampai sekarang walaupun kami sudah terpisah jarak, saya di Batam, big bro saya di Bandung, little bro saya di Jambi, adik perempuan saya di Palembang, ketika berbicara sesama kami, kami tetap menggunakan bahasa Palembang dengan tentu saja tidak ketinggalan kata kau... dan itu hal biasa bagi kami, tidak ada yang menganggap kasar. 

Dulu itu saya ingat waktu SMU ya, ada teman satu kelas pindahan dari Jawa, nah hanya beberapa waktu saja dia berbicara bahasa Indonesia, dan ketika kami mendengar satu kata bahasa Palembang keluar dari mulutnya, kami semua bersorak, akhirnya..he he he... dan tidak berapa lama kemudian, dia sudah sangat lancar berbicara bahasa Palembang.

Dan ada suatu anggapan di sana itu, kalau kita berbicara sesama teman tanpa menggunakan bahasa Palembang kita akan dianggap sok. Hmmm ingat juga dulu ketika sudah mulai kuliah, lalu ada beberapa teman memang kuliahnya tidak di Palembang, termasuk saya. Nah ketika pulang liburan kuliah ketemu dengan teman SMU, karena masih baru ya.. jadi tentu saja bahasa Palembang saya masih kental, jadi saya tidak dikatakan sok oleh teman yang lain. Nah kebetulan ada juga teman yang pulang dan ketika berbicara sudah tidak bisa lagi bahasa Palembang, ha ha ha... tentu saja sebutan sok itu sudah melekat pada dirinya.

Tapi itu dulu ya... sekarang saya perhatikan malah sudah umum mencampur bahasa Palembang dan bahasa Indonesia dan tentu saja bahasa Jawa, sudah sangat lazim he he he... 

Okeh deh.. saya ngelantur lagi... berikut langsung ke resep ya.. silakan...

Rujak Mie

Bahan :
  • 75 gr mie telur, rebus sampai empuk, angkat, sisihkan
  • irisan timun secukupnya
  • 2-3 buah tahu goreng, potong-potong
  • segenggam tauge, cuci bersih dan tiriskan
  • cuko secukupnya sesuai selera
  • ebi sangrai halus jika suka (saya tidak pakai)

Cara membuat :
Tata mie telur di piring, beri tauge, timun dan potongan tahu, siram dengan cuko, siap disantap


Resep cuko tanpa ebi
Bahan :
  • 200 gr gula merah/gula aren  (saya gunakan gula batok)
  • 400 ml air
  • 8 siung bawang putih
  • 20 butir cabai rawit (sesuaikan dengan selera jumlahnya)
  • 3 sendok makan asam jawa
  • 1/2 sendok teh garam
Cara membuat :
Potong kecil gula merah, campur dengan air dan asam jawa, rebus hingga mendidih, saring. Masukkan kembali ke dalam panci, masukkan cabai rawit dan bawang putih yang sudah dihaluskan, masak hingga mendidih, tambahkan garam, aduk rata, cicipi rasanya. Angkat dan biarkan dingin, saring., siap digunakan. Masukkan ke dalam kulkas jika cuko akan diinapkan.


resep rujak mie palembang mudah

Nah semoga resep rujak mie khas Palembang wong kito galo ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...



Selamat mencoba...



NewerStories OlderStories Home

4 comments:

  1. Enceesss lg liat postingan mba Monic ....enak ini!

    BTW di Medan jg biasa menggunakan kata 'kau' mba. Apalagi klo temen akrab biasa itu. Klo 'kamu' gk pernah kecuali urusan formal. Klo mau ngomong sm orang secara halus sehari2 sebut
    namanya aja.

    Rini

    ReplyDelete
    Replies
    1. ha ha ha mba Rini bisa aja... ayo coba buat mba, mudah kan kayaknya..

      he eh ya.. di medan biasa juga ya, sama donk ya..tapi kata orang lain kasar ya mba..oh iya memang yang halus sebut nama aja ya..bener... bener..

      Delete
  2. Iya nih, mba Rini. Mba Monic memang paling suka bikin kita mupeng dan enceeess, heheheh...

    Hahahaha.... Ngakak saya baca "Kau... Kau...." yang bisa bikin mabok itu. Wkwkwk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah sayang ya.. yang ini juga makanan pantang... lagi dan lagi he he he..

      iya begitu deh mba... kalau tidak biasa dengar ya mabok he he he

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ke sini dan mau meninggalkan komentar manis atau pertanyaan di sini. Silakan kalau mau mempromosikan blog/website, gunakan komentar dengan nama atau nama blog/website dan url, tetapi komentar promosi produk dan jualan tidak akan saya tampilkan ya, begitu juga dengan nama URL yang saru. Dan untuk yang berkomentar anonymous mohon cantumkan nama ya biar saya tahu yang berkomentar siapa kan enak jadi bisa panggil mas atau mba. Terima kasih.