Kalio Ayam & Telur



resep kalio ayam telur

Menu masakan beberapa waktu lalu, kalio ayam dan telur. Nah yang belum tahu kalio neh, jadi kalio itu masakan sebelum jadi rendang ya. Kalau rendang kan cenderung kering, nah tentu saja kalio ini masih berkuah dan lebih sedikit kemerahan, bukan gelap seperti halnya rendang.

Kalau saya sih lebih suka dengan kalio karena sedap kuahnya dan pas sekali dicampur nasi hangat, waduh... selain itu karena memasak kalio tentunya tidak selama memasak rendang. Jadinya cukup praktis buat saya.

Kalau mau rendang, mudah tinggal cuss ke rumah makan padang. Di Batam banyak sekali rumah makan padang, di wilayah dekat rumah saja banyak. Tapi yang favorit saya di rumah makan padang selain asam padeh adalah ayam bakar atau ayam lado ijo.

Kalau ke rumah makan padang, selalunya pesan pakai bahasa padang, walaupun tidaklah lancar, saya ini mengerti bahasa padang, tapi selalu ya saya rasa saya itu tidak pantas bicara bahasa daerah lain selain bahasa Palembang. Memang sih sewaktu di Bandung saya belajar bahasa Sunda, tentu bukan versi yang halus, bahasa anak kuliah sehari-hari. Hmmm ketika di Surabaya ketemu lagi teman dari Bandung yang notabene orang Sunda, suka berbicara bahasa Sunda juga, aih saya percaya diri sekali bicara bahasa Sunda.

Hmmmm tapi itu tidak lama, karena sudah tertular juga dengan bahasa Jawa dan kalau dipadupadankan dengan bahasa Sunda malah suka bingung. Ealah saya malah lebih bisa bahasa Jawa walaupun ketika sedang semangatnya bicara bahasa Jawa ada yang menohok.. sudah mba, sampeyan itu tidak usah ngomong jawa, tidak pantas blass... (tidak pantas sama sekali), wakakak.. jadi sekarang itu kalau mau berbahasa daerah lain jadi pikir dua kali.

Selain memang tidak pantas, masih ada kekuatiran kalau lawan bicara saya berbicara lebih jauh dan saya tidak bisa membalas percakapannya selain kurang kosakata atau juga ada yang tidak saya mengerti dari percakapannya.

Saya ingat dulu kejadian ketika di Bandung, hmmm ceritanya saya ini sedang sangat percaya diri kalau saya bisa bahasa Sunda. Jadi ketika ada teman sekolah saya di Palembang liburan dan main ke Bandung ceritanya. Hmmm jalan-jalan ke pusat pertokoan di daerah alun-alun Bandung. Cerita punya cerita akhirnya kami sepakat melihat aneka jam tangan. Dengan percaya dirinya saya bicara bahasa Sunda dengan penjual. Tapi lama-kelamaan saya tidak mengerti, saya bingung dengan harganya. Karena malu tidak mengerti akhirnya saya mengajak teman saya pergi saja, batal dengan proses penawaran jam tangan tersebut.

Lalu kata teman saya ketika sudah jauh dari penjual jam tersebut, kenapa kamu ajak pergi, kita kan belum fix penawarannya.. apa jamnya bermasalah? lalu saya katakan, bukan.. saya tidak bisa lagi melanjutkan pembicaraan, saya tidak mengerti lagi maksud si penjual, halah.. lalu dia tertawa dengan kekonyolan saya. Akhirnya kami mencoba di tempat lain tapi tentu saja tidak berani lagi sombong sok bisa bahasa Sunda, cari aman, gunakan bahasa Indonesia ha ha ha..

Nah kalau di rumah makan padang, karena pesannya tidak rumit terkadang saya gunakan juga bahasa padang, uda yang melayani pesanan nasi padang begitu melihat pelanggan akan bertanya, makan siko, bungkui ni? lalu saya jawab bungkui da, lauak apo? ayam baka da.. jo talui dada.. begitulah kurang lebih percakapan saya dan si uda. Lalu setelah membungkus udanya akan bertanya alah ni? ciek lai da..  sampai di akhir saya tanya harga, bara da? nah lalu dijawab dengan bahasa padang juga, dan untungnya selama ini harga nasi padang di rumah makan padang selalu saya mengerti he he he.

Okeh deh, sudah cerita ngalor ngidulnya.. sekarang yang mau intip resepnya, ini dia ya.. silakan.. oh iya mirip-miriplah ya resepnya dengan resep kalio daging sapi dan kentang.

Kalio Ayam & Telur

Bahan :
  • 800 gr daging ayam, potong-potong
  • 2 buah jeruk nipis ukuran sedang
  • 6 butir telur ayam, rebus, kupas
  • 250 ml santan kental
  • 500 ml air
  • 1 batang serai, ambil bagian putihnya, memarkan
  • 5 lembar daun jeruk
  • 2 lembar daun salam
  • 2 lembar daun kunyit, sobek-sobek ukuran 5cm
  • 3 butir asam kandis
  • 1-2 sendok teh garam
  • 2 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu halus : (saya blender dengan sedikit air)
  • 100 gr cabai merah keriting segar
  • 10 buah cabai kering, rendam dengan air panas, tiriskan
  • 10 butir bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 2 cm jahe
  • 3 cm lengkuas
  • 5 butir kemiri sangrai
  • 1 sendok teh ketumbar, sangrai
  • 1/2 sendok teh jinten, sangrai

Cara membuat :
  1. Bersihkan ayam dari lemak-lemak dan kulitnya, cuci bersih, lumuri dengan air jeruk nipis, diamkan selama kurang lebih 15 menit, bilas, sisihkan.
  2. Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan serai, daun jeruk, daun kunyit, daun salam, asam kandis, aduk rata dan tumis lagi sebentar sampai benar-benar harum
  3. Masukkan potongan daging ayam, aduk rata hingga berubah warna
  4. Tambahkan air, masak hingga ayam matang, tambahkan garam, tambahkan santan kental, aduk rata kembali dan masak hingga kuah mendidih sambil sesekali diaduk
  5. Cicipi rasanya, tambahkan telur, aduk rata dan masak hingga kuah sedikit mengental, angkat dan siap dihidangkan


resep masakan kalio ayam


Nah semoga resep kalio ayam dan telur ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera...



Selamat mencoba..



NewerStories OlderStories Home

6 comments:

  1. Wah, dapat info baru lagi nih tentang Kalio. Namanya mirip Kaloe, heheheh.

    Wkwkwk.... Ngakak habis baca cerpennya, mba. Menghibur banget.
    Kalau bahasa Toraja, mba Monic bisa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mirip ya dengan kaloe he he he..

      wah senang kalau bisa menghibur.. tuh dia mba Ima, ga bisa euy bahasa toraja, dulu kecil sempat sedikit2 ngerti.. tapi sekarang hilang sudah perbendaharaan kata bahasa toraja hiks..

      Delete
  2. Iya, mba. Bahasa yang kita taunya cuma dikit dan tidak sering digunakan lama-lama jadi lupa.
    Sekedar info nih, mba. Bahasa Mandar itu lebih mirip Bahasa Toraja dibandingkan Bahasa Makassar atau Bahasa Bugis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iyakah mba? bahasa Mandar malah lebih mirip bahasa Toraja ya.. eh dulu ada suaminya sepupuku yg orang bali dapat orang toraja dari mamuju..dulu itu mamuju masih masuk tana toraja bukan ya..he he he..
      nah sekarang mamuju jadi sulbar ya..bukan sulsel lagi

      Delete
  3. Setahu saya Mamuju banyak ditempati pendatang, mba. Termasuk daerah transmigrasi juga. Iya, mba. Mamuju sekarang jadi Sul-Bar bukan Sul-Sel lagi. Mamuju letaknya jauh dari Toraja, mba. Kalau dari Polewali, lebih dekat tempatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh gitu.. malah lebih dekat dari Polewali ya dibanding Toraja.. maklum belum pernah ke sana..
      terima kasih untuk infonya mba Ima

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ke sini dan mau meninggalkan komentar manis atau pertanyaan di sini. Silakan kalau mau mempromosikan blog/website, gunakan komentar dengan nama atau nama blog/website dan url, tetapi komentar promosi produk dan jualan tidak akan saya tampilkan ya, begitu juga dengan nama URL yang saru. Dan untuk yang berkomentar anonymous mohon cantumkan nama ya biar saya tahu yang berkomentar siapa kan enak jadi bisa panggil mas atau mba. Terima kasih.