Monic's Simply Kitchen: Sumatera Barat
Showing posts with label Sumatera Barat. Show all posts
Showing posts with label Sumatera Barat. Show all posts

Wednesday, March 14, 2018

Gulai Tauco Bumbu Iris



gulai tauco minang

Sudah siang, sudah pada makan siang belum? makan siang pakai apa kakak? apapun makanannya, tetap semangat ya.. hayo mau bilang apapun makanannya minumnya teh botol sosro ya..he he he... eh tapi memang enak sih habis makan minum teh botol sosro, walaupun teh merk apa juga bisa dan tetap enak.

Kalau di Batam nih, minuman terkenal dan merakyat adalah teh obeng, hi hi hi.. teh apa tuh teh obeng. Lucu memang kalau pertama kali dengar, saya saja ketika pertama kali ke Batam dan mendengar istilah ini kok aneh ya, kasak kusuk tanya teman, apa tuh teh obeng, oalah ternyata adalah es teh. Lalu kalau teh hangat disebut teh-o, kopi hangat disebut kopi-o. Hmmm kalau es kopi apa disebut kopi obeng? belum ada yang mencantumkan minuman kopi obeng ini di sini.

Panas-panas di Batam minum teh obeng, oalah enaknya, segar.. es batunya itu loh yang buat tambah segar, es batu bentuk tabung berlubang tengah. Kalau Sophie sudah diajak minum teh obeng, kalau tehnya sudah habis, suka sekali makan es batunya, karena bolong ditengah jadi dia juga bisa bermain-main dengan sedotannya itu memasukkan sedotan ke lubang es batu.

Uppsss kembali ke gulai tauco dulu ya, nah kemarin saya masak gulai tauco ini, bahan yang terpikirkan dan tersedia di dapur saya masukkan semua, tadinya mau ditambah tempe juga, tapi terlalu penuh sepertinya muatannya, jadi saya urungkan niat tersebut. Bapaknya Sophie malah bertanya, udangnya mana? secara dia melihat saya membersihkan udang sebelum memasak, tapi karena terlalu banyak muatan gulai ini, saya berpikir ya sudah udangnya buat dimasak apalah nanti dipikirkan. Ealah protes, langsung deh katakan, kamu itu terlalu pelit, kenapa udangnya tidak dimasak juga? janganlah terlalu pelit sama babang sendiri, begitu candanya. Saya tahu dia sudah cukup senang dengan gulai tauco ini karena ada petenya, ini yang buat enak gulai tauco.

Gulai tauco ini agak kemerahan karena memang tauconya agak gelap dan kemerahan, saya beli tauco di pasar. Biasanya saya pakai tauco botolan yang beli di swalayan. Kalau dari segi rasa tauco swalayan rasanya tidak seasin tauco pasar. Saya katakan ke bapaknya Sophie, bagaimana, penampakan kuahnya sudah mirip dengan lontong sayur gulai tauco yang biasa beli di si uda itu kan?

Memang kalau beli lontong sayur, ada satu langganan favorit, lontong sayur Minang, yang jual orang Minang asli, dengan varian gulai paku (pakis), gulai nangka dan gulai tauco. Gulai tauonya sederhana saja, isinya hanya buncis, wortel dan rimbang atau tekokak atau nama lainnya terong pipit. Mirip leunca tapi beda. Hmmmm penasaran dengan bentuk rimbang ih, cusss yuk ke resep gulai tauco ikan khas Minang, di sana saya gunakan rimbang di gulainya.

Tadinya saya berniat menggunakan rimbang juga, karena saya ingat saya masih simpan rimbang di kulkas, ternyata rimbangnya sudah menghitam, tanpa saya periksa lagi, ya iyalah ya, sudah seminggu lebih di kulkas. Jadinya batal deh saya pakai tuh rimbang.

Nah pada dasarnya gulai tauco kali ini mirip sekali dengan resep gulai tauco ikan khas Minang yang pernah saya posting sebelumnya, hanya kali ini saya menggunakan bumbu iris, lebih simpel cara membuatnya.

Oh iya, selain gulai tauco khas Minang, saya pun pernah membuat sambal tauco khas Medan, nah yang ini tak kalah sedap, cusss klik linknya kalau mau tahu dengan resepnya ya. Sambal tauco khas Medan ini biasanya dijual sebagai pendamping nasi lemak, itu nasi lemak di Batam ya, jadi biasanya judul kedainya nasi lemak khas Medan.

Untuk ikannya sendiri di sini saya menggunakan ikan benggol, sebutannya di Batam, kalau di Palembang beda lagi, sebutannya ikan sarden. Nah di Medan, colek mba Rini di Medan yang mengatakan kalau di sana sebutannya ikan Dencis, atau juga ada yang menyebut ikan layang. Bentuknya bagaimana, sayangnya saya tidak foto ikannya dalam kondisi belum dimasak, upss di foto gulainya tidak nampak jelas ya. Yang belum tahu bentuk ikannya, cusss silakan ke link ini pempek kulit ikan benggol.

Ikan ini adalah favorit saya selain ikan tongkol, dan tentunya favorit kucing kuning gembul di rumah, Adul Bedul, yang kalau saya goreng ikan ini, sudah tahu kalau dia pasti dapat jatah, duduk di dapur dengan sabar menunggu jatahnya diberikan.

Wokeh, terlalu panjang ya celoteh saya, berikut langsung ke resep ya.. silakan..


Gulai Tauco

Bahan :
  • 5 ekor ikan benggol yang sudah digoreng
  • 10 buah tahu yang sudah digoreng
  • 20 butir telur puyuh rebus
  • 3 papan pete
  • 10 buah buncis, iris serong
  • 10 buah cabai hijau keriting, iris serong
  • 20 butir cabai rawit merah utuh
  • 2 lembar daun salam
  • 5 lembar daun jeruk
  • 1 ruas jempol lengkuas, memarkan
  • 1 batang serai bagian putihnya, memarkan
  • 100 gr tauco
  • 600 ml air
  • 1 sachet santan instan 65ml
  • 5 butir bawang merah, iris
  • 3 siung bawang putih, iris
  • 1 sendok makan minyak untuk menumis

Cara membuat :
Tumis bawang merah dan putih sampai harum, masukkan serai, daun salam, daun jeruk dan lengkuas, tumis kembali sampai harum. Masukkan tauco, aduk rata, tambahkan air dan santan, aduk rata kembali. Biarkan mendidih sambil sesekali diaduk. Masukkan buncis, cabai hijau, cabai rawit merah, tahu dan telur puyuh, masak sampai buncis mulai sedikit layu, sesaat sebelum diangkat masukan ikan goreng, cicipi rasanya, bisa tambahkan gula untuk penyeimbang rasa asin tauco, angkat dan siap disajikan.

resep gulai tauco bumbu iris

Nah semoga resep gulai tauco bumbu iris ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...



Selamat mencoba....



Monday, February 12, 2018

Resep Kalio Jengkol Padang



resep kalio jengkol jariang padang

Halooo.... hari ini saya posting resep kalio jengkol (jariang) khas Padang dulu ya... hmmm jengkol, makanan yang tidak semua suka, tapi kalau sudah suka beuh..bisa ketagihan ha ha ha... jengkol ini seperti durian, baunya tajam tapi tidak semua suka.

Ceritanya ketika ke pasar saya melihat di penjual sayuran ada jengkol cukup banyak, tumben... sampai 1 kotak besar. Harganya bisa dikatakan cukup murah dibanding harga sebelumnya. Jadi saya putuskan beli setengah kilo, ini hitungannya dengan kulit luar yang keras itu ya, jadi ketika dibuka ya jadinya sedikit. Aih tanggung kalau sedikit, jadi keesokan harinya ke pasar lagi, beli lagi 1kg, wakakak.. niat sekali, mumpung murah. Nah kepikiran buat kalio saja, kapan-kapan deh baru dibalado.

Jadi ke pasar sekalian beli semua bumbu yang dibutuhkan untuk membuat kalio, nah kalio di sini sama saja dengan bumbu rendang ya, hanya saja kalio itu versi basahnya rendang, atau rendang yang belum jadi ya disebut kalio.

Kalau beli di rumah makan padang, tentu saja lebih mahal kalau dibanding buat sendiri, jauh deh, apalagi di rumah makan tertentu yang sangat pelit dengan jengkol ha ha ha... nah karena sering beli jengkol di beberapa rumah makan padang, kami (saya dan bapaknya Sophie) sampai menandai mana rumah makan yang cukup pemurah dengan jengkol ini. Jadi sepakat kalau mau beli jengkol di rumah makan padang A saja, jangan di B, atau C.

Ketika persiapan masak jengkol, ada yang ribut... masak apa? masak jengkol, wuihhh Pipi ga suka jengkol, bau.. begitu katanya. Ibu kenapa sih suka jengkol, apa rasanya? enak kata saya, nanti Pipi coba makan ya.. ga mau.. Pipi ga mau makan.

Ketika kalio jengkol sudah matang, kami sudah menyantapnya, tentu Sophie tidak ikutan. Nah mulai deh dia bercanda dengan bapaknya, bau jengkol... bau jengkol.. saling tuduh siapa yang bau jengkol.. ahai ribut deh.

Memang dulu sih saya tidak suka sama sekali dengan jengkol, karena memang dari kecil saya tidak pernah makan jengkol karena di rumah ibu saya tidak pernah masak jengkol dan pete apalagi kabau. Okeh ada yang tahu kabau tidak? kabau itu sejenis pete tapi lebih menyengat baunya. Selama ini saya hanya menemukannya di Palembang, tidak pernah di tempat lain.

Ketika ketemu dengan bapaknya Sophie baru mau makan jengkol, itu pun paling satu atau dua, saya tetap merasa aneh, tapi belakangan karena sering makan, eh kok enak juga ha ha ha...walaupun efek samping jengkol ini yang sudah pada tahu kan... he he he..

Okehlah.. lanjut ke resep ya... oh iya resep ini bumbunya ya mirip dengan bumbu kalio daging sapi kentang yang pernah saya posting sebelumnya, beda tipis saja... cusss ke resep..

Kalio Jengkol

Bahan :
  • 1.5kg jengkol dengan kulit luar
  • 200 gr santan instan
  • 500 ml air (atau supaya umami bisa gunakan kaldu ayam dari rebusan tulang ayam)
  • 2 batang serai, ambil bagian putihnya, memarkan
  • 6 lembar daun jeruk
  • 3 lembar daun salam
  • 2 lembar daun kunyit, sobek-sobek ukuran 5cm
  • 5 butir asam kandis
  • 2 sendok makan minyak untuk menumis
  • 3 butir kapulaga
  • 5 butir cengkeh
  • 2 batang kayumanis @3cm
  • 1 buah pekak/kembang lawang
  • 2 sendok teh garam 
  • gula sesuai selera (di sini saya tidak menambahkan gula)

Bumbu halus : (saya blender dengan sedikit air)
  • 75 gr cabai merah keriting segar
  • 10 buah cabi merah kering, rendam dengan air panas sampai lunak
  • 10 butir bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 2 cm jahe
  • 3 cm lengkuas
  • 5 butir kemiri sangrai
  • 1 sendok teh ketumbar, sangrai
  • 1/2 sendok teh jinten, sangrai

Cara membuat :
Kupas jengkol, biarkan kulit arinya, cuci lalu rebus sampai empuk. Tiriskan airnya, cuci kembali, belah 2, gepuk hingga pipih, sisihkan.
Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan serai, daun jeruk, daun kunyit, daun salam, asam kandis, pekak, kapulaga, kayumanis, cengkeh, aduk rata dan tumis lagi sebentar sampai benar-benar harum dan tidak langu. Masukkan jengkol, aduk rata, tambahkan air, masak sampai kuah mendidih dan jengkol benar-benar empuk. Tambahkan santan dan garam, aduk rata dan masak hingga mengental, cicipi rasanya, tambahkan gula jika suka untuk penyeimbang rasa. Angkat dan siap dihidangkan.

resep kalio jengkol

Nah semoga resep kalio jengkol atau jariang khas Padang ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...



Selamat mencoba...