Monic's Simply Kitchen: Palembang
Showing posts with label Palembang. Show all posts
Showing posts with label Palembang. Show all posts

Monday, October 15, 2018

Pempek Sosis Versi Pempek Dos


resep pempek dos sosis

Hai..hai.. lama tidak bersua lagi di dapur saya ini ya... walaupun saya berniat untuk rajin posting tapi apa boleh dikata, kenyataan berkata lain ha ha ha...ya begitulah dunia emak-emak..khususnya dunia saya ini, sibuk di dunia nyata.

Nah di kesempatan kali ini saya mau posting resep pempek sosis dulu ya.. ini pempek sosis versi pempek dos, pempek tanpa telur. Pempek dos memang menjadi pilihan kalau ingin makan pempek, ingin buat sendiri tetapi sedang tidak ada ikan. Hmmm bolehlah ya..

Pempek sosis sendiri setahu saya di Palembang baru beberapa tahun terakhir ada dijual di warung pempek besar dan terkenal. Dulu ya belum ada, apalagi waktu saya kecil, sama sekali tidak mengenal varian pempek sosis ini. Dan walaupun ketika beberapa tahun belakangan pulang ke Palembang dan menyempatkan diri menyantap pempek di satu atau beberapa warung pempek, dan ketika dihidangkan pempek sosis, saya tidak tergerak untuk mencobanya. Masih menarik pempek jenis lain yang sudah biasa saya santap.

Hmmm karena punya sosis di freezer ya sudah kepikiran untuk mencoba pempek sosis. Walaupun saya tahu, Sophie pasti tidak suka dengan pempek sosis ini, karena dia memang tidak suka sosis. Dan benar, ketika tahu saya membuat pempek sosis dia protes, alhasil ketika dia makan ini, sosisnya dipisahkan dulu, sisakan saja bagian tanpa sosis.

Untuk satu resep di bawah ini menghasilkan 3 buah pempek sosis. Dan satu bagian pempek sosis ini saya potong menjadi 6 bagian setelah direbus baru deh digoreng. Rasanya bagaimana? bagi pecinta pempek tentu saja enak ya.. Dan testimoni dari penyuka pempek yang beberapa tahun tinggal di Palembang, pempek ini enak, empuk dan tidak kalah jauh rasanya dengan pempek yang menggunakan ikan di adonannya, lebih enak malah dari pempek yang terakhir dibelinya di Jakarta. Hi hi hi... colek dulu teman saya di Jakarta yang beberapa waktu lalu liburan ke Batam.

Cukonya seperti biasa saya buat dengan resep yang sudah-sudah, dan tetap menggunakan gula aren. Gula aren ini saya beli di salah satu swalayan di Batam, rasanya tidak kalah dengan gula batok dari Palembang. Sayangnya stok gula aren ini tidak ada lagi dijual, sudah beberapa kali saya ke sana selalu tidak ada.

Oke deh... daripada kelamaan, siapa tahu ada yang mau mencoba juga membuat sendiri pempek sosis versi pempek dos ini, ini dia resepnya.. menggunakan adonan dasar pempek dos yang sudah sering saya buat, misalnya di pempek dos lenjer kecil ini.


Pempek Sosis

Bahan :
  • 250 ml air
  • 1 sendok teh garam
  • 1/2 sendok teh kaldu bubuk (gunakan kaldu jamur atau kaldu bubuk non MSG atau kaldu bubuk homemade jika ada, kalau tidak ada dan tidak masalah gunakan kaldu bubuk biasa yang banyak tersedia di pasaran)
  • 3 siung bawang putih, haluskan
  • 125 gr tepung terigu protein sedang
  • 2 butir telur, kocok dengan garpu
  • 200 gr tepung sagu tani atau tepung tapioka
  • 3 buah sosis ayam
  • sedikit tepung tapioka untuk baluran tangan ketika membentuk pempek
  • kurang lebih 1000 ml air + 1 sendok makan minyak goreng untuk merebus pempek
  • minyak untuk menggoreng pempek 

Cara membuat :
Di panci, campur air, garam, kaldu bubuk dan bawang putih, masak hingga mendidih, kecilkan api dan masukkan tepung terigu, aduk hingga tercampur dan membentuk adonan, angkat dan biarkan hangat. 
Pindahkan ke dalam mangkuk cukup besar, masukkan telur kocok, aduk rata dengan sendok kayu, kemudian tambahkan sebagian tepung sagu tani/tapioka, uleni perlahan dengan tangan, tambahkan sisa tepung, uleni hingga kalis. Baluri tangan dengan tepung tapioka, ambil kira-kira 1/3 adonan, pipihkan, isi dengan sosis, tutup sosis dengan adonan, bentuk bulat lonjong. Letakkan di wadah bertabur tepung tipis, lakukan sampai habis. Selagi membentuk pempek didihkan air di panci, campur dengan minyak goreng. Masukkan pempek, rebus hingga mengapung, biarkan mengapung kurang lebih selama 10 menit, angkat dan tiriskan. Potong menjadi 6 bagian atau sesuai selera, goreng dengan minyak yang cukup banyak sampai garing.


Cuko Pempek

Bahan :
  • 200 gr gula merah/gula aren  (saya gunakan gula aren)
  • 400 ml air
  • 8 siung bawang putih
  • 20 butir cabai rawit (sesuaikan dengan selera jumlahnya)
  • 3 sendok makan asam jawa
  • 1/2 sendok teh garam

Cara membuat :
Potong kecil gula merah, campur dengan air dan asam jawa, rebus hingga mendidih, saring. Masukkan kembali ke dalam panci, masukkan cabai rawit dan bawang putih yang sudah dihaluskan, masak hingga mendidih, tambahkan garam, aduk rata, cicipi rasanya. Angkat dan biarkan dingin, saring., siap digunakan. Masukkan ke dalam kulkas jika cuko akan diinapkan.



resep pempek dos sosis

Nah semoga resep pempek dos sosis ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...



Selamat mencoba....




Monday, April 30, 2018

Resep Malbi Ayam Kentang



resep malbi ayam kentang

Halooo semua pembaca... wah sudah penghujung bulan April neh, hmmm menyempatkan diri lagi kembali ngeblog, setelah sekian lama blog ini saya biarkan saja, duh duh... maafkan ya buat pembaca yang menunggu postingan terbaru... ada? semoga ada...

Wokehlah, kalau bicara update blog, bulan April adalah bulan di mana kemalasan saya kembali datang, hmmm postingan ini baru postingan kedua, halah. Nah postingan kali ini saya tampilkan resep malbi ayam dan kentang ya. Ada yang sudah tahu dengan malbi? Kalau belum tahu, malbi itu adalah masakan khas Palembang, semurnya orang Palembang. Biasanya bukan daging ayam ya, daging sapi yang dijadikan malbi, hanya kali ini saya mau buat versi daging ayam saja.

Malbi ini rasanya ya seperti semur kebanyakan, manis dan gurih. Untuk kali ini saya pakai resep ala ibu saya. Walaupun kalau saya tanya resep ke ibu saya ya tentu tidak pakai takaran, hanya bahan, takaran saya sesuaikan sendiri. Hasilnya bagaimana? enak tentu saja, enak buat saya dan Sophie. Sophie sampai bertanya kok saya bisa masak ayam seperti ini? lalu saya katakan dari Oma, hmmm lalu dengan sok tahunya berkata, jadi ibu dari kecil sudah makan ayam manis ini ya... iya jawab saya.

Nah kalau makanan begini enaknya disantap dengan tambahan rasa pedas, itu menurut saya, jadi untuk menambah pedasnya saya hanya tambahkan irisan cabai rawit, sedang malas membuat sambal. 

Oh iya kalau menurut saya malbi yang saya masak ini cenderung kental ya kuahnya, jadi kalau yang tidak suka terlalu kental, jangan masak sampai mengental, biarkan sedikit berkuah.

Ok sippp, saya bingung mau menulis apa lagi, berikut langsung ke resep ya... silakan..


Malbi Ayam Kentang

Bahan :
  • 1 kg ayam, potong-potong, bersihkan, buang kulit dan cuci bersih, lumuri dengan air jeruk nipis, biarkan selama kurang lebih 10 menit, bilas
  • 500 gr kentang, potong ukuran cukup besar, goreng matang
  • 2 batang kayu manis @4cm
  • 8 butir cengkeh
  • 65 ml santan instan + 40 ml air
  • 500 ml air
  • 60 gr gula merah aren atau gula merah biasa
  • 2 sendok makan kecap asin
  • 3 sendok makan kecap manis
  • 10 sendok makan kelapa parut sangrai, haluskan hingga berminyak
  • 1 sendok teh garam
  • 2 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu halus :
  • 6 butir bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 1/2 sendok teh jinten, sangrai
  • 5 butir kemiri, sangrai
  • 3 cm jahe
  • 1/2 butir pala
  • 1/2 sendok teh merica butiran

Cara membuat :
Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan cengkeh dan kayumanis, masukkan potongan daging ayam, masak hingga berubah warna, beri air, masak hingga air mendidih. Tambahkan kecap manis, gula merah, kecap asin dan garam. Masak hingga ayam matang. Setelah ayam matang, tambahkan kentang, kelapa sangrai halus dan santan, aduk rata, masak hingga kuah menyusut sambil sesekali diaduk. Cicipi rasanya, angkat dan siap dihidangkan, taburi dengan bawang goreng.


resep malbi ayam

Nah semoga resep malbi ayam kentang ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...



Selamat mencoba...



Friday, March 2, 2018

Pempek Dos Lenjer Kecil



resep pempek dos lenjer kecil

Tidak pernah bosan dengan makanan satu ini, apalagi kalau bukan pempek. Hmmm beberapa hari yang lalu buat pempek dos lenjer kecil. Iseng sekali buat pempek begini malam hari, keterbatasan bahan, telur juga tinggal 3 butir ya sudah deh buat versi lenjer semua.

Walaupun pempek dos, tapi rasanya tetap sip, apalagi dengan cuko mantap sesuai selera. Sophie suka sekali kalau saya membuat pempek. Jadi keesokan harinya dia bawa pempek ke sekolah. Cocolan saus tomat saja, walaupun dia juga suka sih mencocol pempek dengan cuko.

Wokeh, membuat pempek dos ini sangat mudah ya, bahan-bahannya juga sangat sederhana, nah tidak butuh waktu yang lama sudah jadi deh pempek dos lenjer ini. Sedikit lebih rumit kalau membuat pempek dengan isian, misalnya pempek dos kapal selam ataupun pempek dos pistel atau pempek dos belah isi kecap ebi.

Kalau di rumah saya, penghuninya lebih suka pempek lenjer, apalagi anak gembul saya itu, suka sekali dengan pempek lenjer, baguslah, mempermudah emaknya kalau begini. Jadi kan matang malam hari tuh pempeknya, masih belum saya goreng, nah makan pempek rebus dulu, itu saja dia sudah suka sekali. Padahal sudah sikat gigi malam, tapi dia katakan, nanti habis makan pempek kumur-kumur saja ya, wokelah, boleh kata emaknya ini.

Untuk cuko masih resep andalan tanpa ebi, tapi dengan menggunakan gula batok, cukonya lebih kental dan tidak begitu manis. Bisa juga gunakan gula aren ya, karena gula aren pun sedap kalau dibuat cuko. Di sini untuk asamnya saya hanya menggunakan asam jawa, tanpa campuran cuka makan. Dengan asam jawa yang cukup banyak sudah dapat rasa pas sesuai selera saya.

Sippp, tidak perlu lama-lama lagi ya... berikut resepnya di bawah... oh iya temukan kuliner Palembang lainnya yang mungkin jarang terdengar dan cukup asing bagi sebagian orang, misalnya kue gandus, srikayo, dodol agar, mie celor, tekwan atau model atau juga pempek tunu, pempek kulit bahkan pindang di kategori Palembang ya, silakan cuss ke link tersebut.

Pempek Dos Lenjer Kecil

Bahan :
  • 250 ml air
  • 1 sendok teh garam
  • 1/2 sendok teh kaldu bubuk (gunakan kaldu jamur atau kaldu bubuk non MSG atau kaldu bubuk homemade jika ada, kalau tidak ada dan tidak masalah gunakan kaldu bubuk biasa yang banyak tersedia di pasaran)
  • 3 siung bawang putih, haluskan
  • 125 gr tepung terigu protein sedang
  • 2 butir telur, kocok dengan garpu
  • 200 gr tepung sagu tani atau tepung tapioka
  • sedikit tepung tapioka untuk baluran tangan ketika membentuk pempek
  • kurang lebih 1000 ml air + 1 sendok makan minyak goreng untuk merebus pempek
  • minyak untuk menggoreng pempek 

Cara membuat :
Di panci, campur air, garam, kaldu bubuk dan bawang putih, masak hingga mendidih, kecilkan api dan masukkan tepung terigu, aduk hingga tercampur dan membentuk adonan, angkat dan biarkan hangat. 
Pindahkan ke dalam mangkuk cukup besar, masukkan telur kocok, aduk rata dengan sendok kayu, kemudian tambahkan sebagian tepung sagu tani/tapioka, uleni perlahan dengan tangan, tambahkan sisa tepung, uleni hingga kalis. Baluri tangan dengan tepung tapioka, ambil sedikit adonan, bentuk bulat lonjong (lenjer). Letakkan di wadah bertabur tepung tipis, lakukan sampai habis. Di sini saya menghasilkan 22 buah pempek lenjer. Selagi membentuk pempek didihkan air di panci, campur dengan minyak goreng. Masukkan pempek, rebus hingga mengapung, angkat dan tiriskan. Goreng dengan minyak yang cukup banyak sampai garing (hati-hati jangan sampai terlalu garing, bisa meletus pempeknya).

Catatan : silakan cuss ke link pempek pistel dan pempek belah  di atas untuk melihat proses membuat pempek dos ini.


Cuko Pempek

Bahan :
  • 200 gr gula merah/gula aren  (saya gunakan gula batok)
  • 400 ml air
  • 8 siung bawang putih
  • 20 butir cabai rawit (sesuaikan dengan selera jumlahnya)
  • 3 sendok makan asam jawa
  • 1/2 sendok teh garam

Cara membuat :
Potong kecil gula merah, campur dengan air dan asam jawa, rebus hingga mendidih, saring. Masukkan kembali ke dalam panci, masukkan cabai rawit dan bawang putih yang sudah dihaluskan, masak hingga mendidih, tambahkan garam, aduk rata, cicipi rasanya. Angkat dan biarkan dingin, saring., siap digunakan. Masukkan ke dalam kulkas jika cuko akan diinapkan.


resep pempek dos lenjer

Nah semoga resep pempek dos lenjer kecil ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...


Selamat mencoba....





Tuesday, October 24, 2017

Pempek Putih Telur



resep pempek putih telur

Haloooo...apa kabar? sudah beberapa hari saya menghilang dari peredaran nih... semoga blog ini tetap ramai ya walaupun pemiliknya jarang muncul. Hmmm kali ini saya mau posting resep pempek putih telur dulu ya, entahlah 2 hari yang lalu muncul ide membuat pempek ini, mungkin karena teringat ada stok putih telur di kulkas.

Lalu ingat juga beberapa waktu yang lalu blogwalking ke blognya mba Lenny - dapur Ibu Lala Wira - pempek putih telur. Nah pas lihat resepnya lagi, ahai mudah sekali deh bahan-bahannya dan tentu saja cara membuatnya. Dan ini lagi nih pasnya, saya punya stok cuko juga di kulkas. Cuko ini saya buat dari gula aren pemberian mba Ima (Sitti Taslimah) yang sudah berbaik hati mengirimkan gula aren Mandar dari Polewali Mandar.

gula aren dari mandar


Penasaran juga kalau buat cuko dengan gula aren yang ini, dan walaupun cukonya masih kurang kental jika dibandingkan dengan menggunaan gula batok, tapi cuko ini tentu saja lebih baik dari cuko yang menggunakan gula merah biasa yang saya temukan di pasar di Batam ini.

Aihhhh ingat mba Ima, sekarang mba Ima sedang dalam kondisi sakit, semoga mba Ima kuat dan pastinya tetap semangat...semoga dengan pengobatan yang dilakukan mba Ima di RS di Makassar ini membuat mba Ima cepat sembuh ya.. jadi bisa kembali lagi ke rumah di Limboro. Apapun yang dirasakan mba Ima semoga mba Ima tetap happy jadinya semangat sehingga penyakit bisa sembuh karena didukung oleh hati yang happy. Beberapa hari ini saya komunikasi dengan mba Ima via WA, nah walaupun kita belum pernah bertemu secara langsung tapi dengan seringnya kita saling blogwalking ke masing-masing blog terasa sekali kita semakin dekat, demikian juga dengan mba Rini di Medan, walaupun mba Rini belum mengisi blognya tapi melalui blog ini dan blog Dapur Ima terjalin persahabatan dunia maya itu.

Jadi sudah beberapa hari nih sejak mba Ima di Makassar maka mba Ima belum mengisi postingan blognya Dapur Ima, demikian juga belum mampir ke blog saya ini, biasanya mba Ima ini selalu meluangkan waktu menuliskan komentarnya di blog ini. Semoga mba Ima cepat sembuh ya mba...saya berdoa yang terbaik buat mba Ima.

Okey deh kembali lagi ke resep pempek putih telur ini, di sini saya membuat pempeknya hanya 1/3 resep mba Lenny secara stok putih telur saya tidak banyak. Di sini saya menggunakan pinggan kaca persegi, lumayan neh dapat pinggan harga murah dengan menukarkan stiker yang saya dapatkan ketika belanja di Lotte Mart. Nah pinggan ini tidak saya oles dengan minyak lagi, jadinya ketika sudah selesai dikukus di bagian tepi agak susah dilepaskan dari pinggan tapi begitu sudah sangat dingin dan dengan ujung pisau akhirnya bisa juga dilepaskan tapi tentu saja sudah saya potong-potong dulu di dalam pinggan, mengeluarkannya perpotong.

Nah kalau mba Lenny menggunakan loyang tapi memang tidak disebutkan dioles minyak dulu atau tidak, tapi caranya keluarkan dari loyang baru potong-potong, jadi kalau begini berarti adonan sangat mudah dikeluarkan dari loyang kan. Hmmm tapi menurut saya untuk amannya oles saja dengan minyak loyangnya.

Bagaimana dengan rasanya, enak donk, apalagi kalau dimakan dengan cuko. Tapi kalau Sophie nih doyannya dicocol saus tomat. Dan pempek putih telur ini saya bekalkan juga untuk dimakannya di istirahat pertama. Hmmm ketika siangnya saya periksa bekalnya, tandas bekalnya, padahal banyak juga, 8 potong he he he.. memang makanan begini dia paling doyan.

Nah di resep ini hanya berbumbu bawang putih dan garam, rasanya tentu saja kurang umami ya, tapi ketika dicocol saus atau dimakan dengan cuko jadinya enak saja walaupun kurang umami. Yang merasa kalau bumbu begini saja kurang bebas-bebas saja menambahkan kaldu bubuk di dalam adonan, baik itu kaldu jamur, kaldu bebas MSG, kaldu homemade atau bahkan kaldu bubuk biasa yang mereknya Masako atau Royko.. kembali lagi kepada selera. Takaran tentu menyesuaikan... 

Okey deh.. berikut saya tuliskan resepnya ya... resep yang saya tuliskan ini merupakan resep yang saya buat, 1/3 resep mba Lenny... terima kasih resepnya mba Lenny...

Pempek Putih Telur

Bahan :
  • 250 gr putih telur
  • 120 gr sagu tani atau tepung tapioka
  • 20 gr tepung terigu protein sedang
  • 1/2 sendok teh garam
  • 4 siung bawang putih atau sekitar 10gr bawang putih, haluskan

Cara membuat :
Panaskan kukusan dengan api sedang hingga air mendidih, sementara itu campur semua bahan di mangkuk, aduk dengan tangan atau sendok (saya aduk dengan sendok) hingga tidak bergerindil. Tuangkan di loyang atau pinggan kaca tahan panas yang sudah dioles sedikit minyak, kukus selama kurang lebih 15-20 menit dengan api sedang. Keluarkan dari kukusan, dinginkan hingga benar-benar dingin, keluarkan dari loyang dan potong-potong. Goreng dengan minyak agak banyak yang sudah dipanaskan sebelumnya dengan api sedang. Goreng hingga kecoklatan, angkat dan tiriskan, sajikan dengan cuko atau saus sambal atau saus tomat.


Cuko

Bahan :
  • 200 gr gula aren atau gula merah atau gula batok
  • 400 ml air
  • 8 siung bawang putih
  • 20 butir cabai rawit
  • 3 sendok makan asam jawa
  • 1/2 sedok teh garam

Cara membuat :
Potong kecil gula merah, campur dengan air dan asam jawa, rebus hingga mendidih, saring. Masukkan kembali ke dalam panci, masukkan cabai rawit dan bawang putih yang sudah dihaluskan, masak hingga mendidih, tambahkan garam, aduk rata, cicipi rasanya. Angkat dan biarkan dingin, saring., siap digunakan. Masukkan ke dalam kulkas jika cuko akan diinapkan.


cara membuat pempek putih telur

Nah semoga resep pempek putih telur ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...



Selamat mencoba....






Sunday, September 24, 2017

Mie Celor Palembang



resep mie celor palembang

Wah ternyata postingan saya di bulan September ini sangat sedikit sekali, hi hi hi baru sadar saya kalau memang di bulan ini saya sering absen ngeblog. Baiklah, untuk menambah sedikit lagi jumlah postingan, hari ini saya posting resep mie celor Palembang lagi ya. Dulu pernah buat juga, nah kali ini ada sedikit perbedaan saja, di jenis mie yang digunakan dan jenis kecap asin juga.

Jadinya kuah mie ini agak sedikit gelap warnanya. Mie yang saya gunakan kali ini adalah jenis mie lidi. Kalau di Batam sih mie lidi kering sangat umum dan sangat mudah untuk ditemukan, di pasar tradisional sampai di swalayan. Memang sih sangat umum di sini orang memasak mie dengan mie lidi, sebut saja mie Aceh, di mana selama saya beli mie Aceh, mie yang digunakan adalah mie lidi ini. Atau juga mie gomak, hmmmm kalau bicara mie gomak, saya itu ketemu dengan penjual mie gomak hanya kalau bulan puasa saja, banyak yang jual di bazaar Ramadhan. Atau saya saja yang kurang info ya tentang mie gomak ini.

Oh iya contoh mie lidi kemasan bisa lihat di postingan saya mie gomak goreng ya, siapa tahu ada yang belum punya bayangan bentuk mie lidi ini. Cuss ke link yang saya cantumkan ya.

Nah kalau mie celor sendiri saya terus terang belum pernah makan yang versi beli di Batam ini, makan mie celor kalau buat sendiri. Tidaklah lazim mie celor di Batam, tidak seperti pempek, tekwan bahkan model. Jadi kalau ingin makan mie celor, cusss ke dapur saja deh.

Waktu pulang ke Palembang beberapa minggu lalu, sempat ingin makan mie celor, tapi maunya yang mie celor 26 Ilir yang terkenal itu, tapi jauh sekali ya kalau mau makan mie celor sampai harus ke 26 Ilir. Akhirnya ya sudah tidak jadi deh, untungnya tidak begitu ingin, hanya ingin sesaat. Big bro saya menawarkan beli mie celor di pasar, lah kalau di pasar kan harus pagi belinya, waktu itu saya inginnya sore hari, mana ada lagi di pasar. Ketika pagi harinya keinginan makan mie celor entah sudah terbang ke mana.

Mie celor sendiri sih biasanya didampingi dengan sambal merah khas Palembang, berhubung saya tidak begitu suka dengan sambal begini, jadi setiap membuat mie celor saya lebih suka menambahkan irisan cabai rawit saja.

Oh iya taburan mie celor bisa daun kucai atau daun seledri ya, berhubung saya tidak ada stok daun kucai jadi kembali lagi ke selera asal gunakan daun seledri. Enak mana donk? kalau saya sih lebih suka dengan daun kucai karena daun seledri terlalu tajam untuk mie celor ini. Eits tapi itu kembali lagi kepada selera.

Nah kalau ditanya neh, Sophie suka tidak dengan mie celor, tentu saja dia tidak suka, he he he... apalagi kalau melihat potongan udang seperti pada foto. Tapi tanpa potongan udang pun dia merasa mungkin ya aroma udangya jadi dia tidak suka. Padahal ini enak sekali loh Sophie.. itu kata emaknya yang sudah dari kecil menyantap mie celor ini.

Okeh deh, walaupun kurang lebih sama lah ya dengan resep mie celor sebelumnya yang pernah saya posting di sini tapi saya tuliskan lagi ya, dengan sedikit modifikasi tentu saja.

Mie Celor Palembang

Bahan :
  • 500 gr udang ukuran sedang
  • 200 ml santan (saya gunakan 2 buah santan instan @65ml ditambah air)
  • 3 sendok makan kecap asin (di sini saya gunakan kecap asin gelap/dark soy sauce, gunakan saja kecap asin biasa kalau tidak ada dark soy sauce)
  • 5 sendok makan tepung terigu, larutkan dengan 100ml air
  • 1/4 sendok teh merica bubuk
  • 1 sendok teh garam atau tambahkan jika dirasa kurang asin, sesuaikan dengan selera
  • 1750 ml kaldu udang
  • 1 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu halus :
  • 1 genggam ebi, rendam dengan air hangat
  • 8 butir bawang merah
  • 5 siung bawang putih

Bahan pelengkap :
  • mie kuning, bisa gunakan mie kuning basah atau mie telur kering atau juga mie lidi, untuk mie telur atau mie lidi, masak sampai mie empuk sesuai petunjuk kemasan, untuk mie kuning basah, seduh sebentar mie dengan air panas
  • tauge secukupnya, seduh dengan air panas
  • telur rebus secukupnya
  • daun seledri atau daun kucai, iris
  • bawang goreng
  • sambal cabai rawit yang direbus lalu dihaluskan atau irisan cabai rawit

Cara membuat :
Kupas kulit udang, lepaskan kepalanya, buang kotoran di punggung udang, cuci bersih kulit, kepala dan daging udang. Siapkan air, rebus kulit dan kepala udang sampai air mendidih dan biarkan mendidih kurang lebih selama 5 menit, saring kaldu udang, sisihkan.
Potong-potong daging udang menjadi 3 atau 4 bagian, sisihkan. Masak kembali kaldu udang dengan panci cukup besar. Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan daging udang, masak hingga berubah warna, angkat dan tuangkan ke dalam panci berisi kaldu udang. Tuangkan santan, aduk hingga rata, tambahkan garam, kecap asin, dan merica bubuk. Masak hingga mendidih sambil diaduk-aduk. Tambahkan larutan terigu, masak hingga mengental, cicipi rasanya, tambahkan apa yang dirasa perlu.

Cara menyajikan :
Siapkan piring saji, tata mie, beri tauge, siram dengan kuah kaldu, beri telur rebus, taburan daun seledri atau kucai, taburi dengan bawang goreng dan beri irisan cabai rawit. Siap disantap kala hangat.



resep mie celor khas palembang

Nah semoga resep mie celor Palembang ini bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya....



Selamat mencoba...



Monday, April 10, 2017

Srikaya (Srikayo) Khas Palembang



resep srikaya palembang

Nah ini dia nih satu lagi makanan khas Palembang, srikaya atau srikayo kalau orang Palembang katakan. Jadi tahu kan yang namanya srikaya itu ya rasanya mirip dengan selai srikaya pandan. Jadi bahan srikaya ini adalah telur, gula, santan dan tentu saja jus pandan.

Dulu pernah saya ulas neh di jajanan pasar khas Palembang, salah satunya adalah srikaya ini. Selain dijual di pasar tentu saja, srikaya ini sangat umum ditemui di warung pempek besar. Jadi selain pempek, model ataupun tekwan, srikaya ini umum disajikan di sana. Bisanya sudah terhidang di meja, jadi kalau pengunjung ingin makan ya tinggal ambil, eits tapi tetap bayar donk.. bukan asal ambil karena srikaya ini tidaklah gratis he he he...

Seperti yang sudah saya ceritakan juga neh, cerita waktu saya di Palembang, Sophie makan srikaya ini ketika kami makan pempek, ternyata dia suka. Hmmm saya pun ikut mencicipi si srikaya ini, dan rasanya ya enak donk, lembut, dan harum pandan. Jadi saya berjanji kepada Sophie nanti setelah di Batam mau buatkan dia srikaya ini.

Okelah.. berhubung sudah sembuh, lanjut deh mulai sibuk-sibuk lagi, nah masih ada telur yang harus segera dihabiskan, secara saya beli telurnya sebelum saya ke Palembang, jadi sebelum telurnya busuk karena sudah terlalu lama, habiskan saja. Sudah diolah menjadi telur dadar, tidak pakai irit telur lagi, buat telur dadar banyak-banyak saja telurnya, yang biasanya paling hanya 3 butir, ini sampai 6 butir he he he...

Nah kebetulan di kulkas masih ada daun pandan, walaupun kondisinya tidaklah begitu segar lagi, tapi lumayan ada 6 lembar yang masih bisa saya selamatkan. Sippp semua sudah ada bahan-bahannya, tinggal eksekusi saja nih si srikaya.

Membuatnya sangatlah mudah, jadi semua bahan hanya dicampur begitu saja, aduk saja dengan garpu, lalu kukus selama 30 menit, jadilah si srikaya nan legit harum pandan ini. Tapi berhubung jumlah daun pandan yang saya gunakan sedikit sekali maka warnanya tidak begitu ngejreng. Jadilah saya tambahkan sedikit pasta pandan.

Warna yang bagus sih kalau dicampur daun suji ya.. tadinya saya itu sudah mau bawa daun suji dari Palembang, daun suji sudah saya petik, nah tapi saya lupa membawanya, termasuk obat radang tenggorokan yang juga saya lupakan.. dasar..

Untuk santannya sendiri, saya gunakan santan yang tidak begitu kental ya, jadi rasa santannya tidaklah begitu tajam rasanya. Yang suka boleh sesuaikan kekentalan santannya.

Sippp ah.. berikut resep srikaya atau srikayo yang saya buat ya.. menghasilkan 5 buah cup dan 5 buah cetakan cucing.

Srikaya (Srikayo) Khas Palembang

Bahan :
  • 1 cup telur atau setara dengan kurang lebih 4 butir telur yang setara juga dengan 200 gr telur tanpa cangkang
  • 1 cup santan pandan atau setara dengan 240 ml santan pandan (di sini saya gunakan campuran 65ml santan instan plus jus pandan dari 6 lembar daun pandan yang diblender bersama dengan 200ml air plus 1/8 sendok teh pasta pandan, ----- masukkan dulu santan instan ke dalam cup ukur, tuang jus pandan sampai cup penuh atau volume menjadi 240ml, tambahkan pasta pandan dengan catatan jika warna jus pandan tidak begitu hijau, jika mau lebihkan takaran daun pandannya supaya tidak perlu lagi pasta pandan)
  • 150 gr gula pasir (jika tidak terlalu suka manis bisa kurangi takaran gulanya)

Cara membuat :
Panaskan air kukusan sampai mendidih. Di mangkuk, campur telur dan gula pasir, kocok dengan garpu sampai gula larut, tambahkan santan pandan, aduk rata kembali, saring. Tuangkan ke dalam cetakan cup plastik atau cucing. Tuang sampai hampir penuh (catatan : adonan cair). Alasi tutup kukusan dengan serbet bersih, kukus selama kurang lebih 30 menit, keluarkan dari kukusan dan dinginkan.


resep srikaya srikayo palembang

Nah semoga resep srikaya (srikayo) khas Palembang ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya..


Selamat mencoba...



Monday, April 3, 2017

Cerita Pulang ke Palembang, Engkak Ketan & Maksuba



engkak ketan maksuba

Yuhuuuu.. saya kembali.. ada yang cari saya? colek mba Ima di Polewali dan mba Rini di Medan. Cukup lama juga neh tidak update..he eh nih secara minggu lalu saya ke Palembang, berdua saja dengan Sophie. Seminggu kurang di sana, nah sebenarnya Sabtu malam saya sudah di Batam, tapi apa daya, terserang radang tenggorokan lagi, jadi tidak bisa update blog secepatnya.

Pulang ke Palembang kali ini ada insiden di mana saya kehilangan KTP, dan saya yakinnya hilangnya di bandara, antara bandara Hang Nadim Batam atau bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Secara begitu boarding di Batam, saya yang biasanya langsung memasukkan KTP ke dalam dompet, entah mengapa malah memilih mengantonginya dulu bersama dengan boarding pass. Padahal sebelum masuk pesawat, saya keluarkan lagi boarding passnya, apa jatuh ketika itu? entahlah.. dan herannya lagi, ktp, boarding pass dan hp saya letakkan di satu kantong..ketika sampai di Palembang, saya mengeluarkan hp juga berikut boarding pass untuk pengambilan bagasi.

Tapi saya tidak sadar kalau ktp bisa saja tercecer, nah sadarnya ketika di taxi (tidak ada yang jemput sih he he he), loh mana ktp ya, jadi periksa dompet, merogoh kantong dan bahkan memeriksa seluruh bagian tas, tidak ada tanda-tanda ktp di mana pun.

Sampai di rumah mulai sibuk deh cari nomor telepon bandara Palembang, dan pihak bandara berjanji kalau ketemu akan menghubungi saya. Hmmm sibuk juga telepon bandara Batam, tapi tidak bisa saja tersambung, akhirnya cerita ke bapaknya Sophie dan bapaknya Sophie yang coba telepon dari Batam. Dan pihak bandara Batam katakan datang saja ke bandara, cek di bagian informasi. Ya sudahlah untungnya masih ada SIM, jadi masih bisa digunakan untuk check in ketika pulang ke Batam.

Dalam perjalanan pulang ke Batam, di bandara Palembang, saya tidak menyerah, saya ke bagian informasi menanyakan ktp yang hilang lalu diarahkan ke security kedatangan, lumayan jauh perjalanan dari terminal keberangkatan dan kedatangan.. dari security kedatangan, saya dikatakan harus mengeceknya ke security keberangkatan, karena semua kartu identitas dan kartu lain-lain yang tercecer di bandara semua dikumpulkan di sana.

Ok deh kembali lagi ke terminal keberangkatan, ya tentu saja sekalian donk, kan saya mau pulang ke Batam, jadi harus ke terminal keberangkatan lagi. Nah di sana saya ditunjukkan buku berisi ktp yang hilang yang sudah disusun berdasarkan abjad, ternyata di buku tersebut tidak ada juga ktp saya. Lalu pak securitynya mengeluarkan segambreng kartu dari sebuah tas, lalu mulai lagi pencarian, tapi tetap nihil. Ya anda belum beruntung...

Jadi pencarian di Palembang nihil... okeh lanjutkan di Batam, begitu sudah sampai di Batam, setelah selesai mengambil barang bagasi saya bertanya kepada pihak citilink, kebetulan memang saya pulang pergi dengan pesawat citilink. Nah di sana saya diajak ke kantor citilink untuk mencari lagi ktp saya, ternyata tidak ada juga. Okeh... yang terakhir nanti adalah pencarian di bagian informasi bandara. Berhubung saya sampai malam hari, sudah jam 8 malam, jadi pencarian saya lanjutkan besoknya.

Dan eng ing eng... saya bertanya ke bagian informasi bandara, saya diberi segabrek ktp, dan saya disuruh mencari sendiri, H2C (harap-harap cemas) juga neh, ternyata tidak ada juga.. alhasil menghela napas, ternyata hilang entah di mana, siapkan tenaga untuk mengurus lagi si ktp ini. Sudah mengurus surat kehilangan di Polsek, lalu tadi coba ke kelurahan ealah ternyata butuh surat keterangan RT/RW, memang sih baca-baca perlu surat keterangan ini tapi berspekulasi, siapa tahu tidak butuh lagi, ternyata he he he.. jadi nanti lagi urusannya.

Jadi begitu deh cerita tidak penting saya.. he he he.. nah selama di Palembang tadinya saya punya rencana untuk kulineran mie celor 26 Ilir lagi, mie celor terkenal itu, yang dulu sudah sempat saya ulas di sini di mie celor 26 Ilir. Tapi apa daya, hari Rabu malam saya terserang radang tenggorokan, jadi Kamis bukannya kulineran malah ke dokter he he he. Jumat belum sembuh benar tapi sudah lumayan tapi hanya sempat beli kerupuk saja, itu saja keringat dingin sudah mengucur deras. 

Eits tapi untungnya masih sempat kulineran pempek dan model dulu sebelum sakit. Kami kulineran pempek di pempek Wawa. Pempeknya enak, cukonya mantap surantap. Tapi ada kejadian lucu... dengan percaya dirinya kami makan pempek, saya sudah habis 2, adik saya 2 lalu Sophie 3, lalu saya lihat di kaca dekat kasir ada tulisan pempek ikan belida 9ribu/pc, ha... jadi pempek yang kita makan ini 9 ribu satu biji begitu kata saya? mahal amat ya.. bukannya dulu sekitar 4 ribu atau 5 ribu saja ya? hmm tapi memang enak sih lanjut saya lagi.

Nah Sophie ini kan ratu ngemil ya, jadi ternyata 3 buah pempek itu belum cukup, minta tambah lagi, lalu minta makan srikayo juga. Pipi suka sekali dengan yang ini begitu katanya ketika makan srikayo. Duh.. serba salah juga, rasanya kok buang-buang uang kalau beli makanan harga segitu mahal tapi Pipi suka. Tadinya mau tambah lagi, tapi saya larang... ha ha ha.. lalu saya katakan nanti ibu buat ya di Batam.

Jadi kalau menikmati pempek dan model atau tekwan, di meja makannya selalu ada suguhan srikayo yaitu campuran telur dan santan yang diberi pandan lalu dikukus. Makanan satu ini sangat legit, jadi tentu saja enak bagi penyuka makanan legit dan harum pandan begini. Biasanya harga srikayo akan sama atau tidak beda jauh dengan harga satu buah pempek. Jadi kalau harga pempeknya 9 ribu ya srikayo kurang lebih sama.

Tapi begitu mba yang melayani datang untuk menghitung lalu saya tanya, ini pempek ikan apa? lalu jawabnya ikan tenggiri. Lalu saya katakan jadi kalau pempek ikan belida harus pesan dulu ya, iya benar begitu kata si mba. Naluri mak irit langsung beraksi, sok baik hati kepada anaknya, Pipi mau pempek lagi? ha ha ha.... lanjut anaknya dengan semangat, mau... mba tambah satu lagi pempeknya ya..secara ternyata bukan pempek ikan belida yang 9 ribu perbiji itu.

Karena ikan belida sudah sangat langka makanya harganya selangit. Ikan belida itu adalah ikan sungai yang badannya pipih. Dulu kecil masih cukup sering menemukan ikan belida di kolam-kolam milik tetangga belakang rumah. Jadi ada yang memancing ataupun menjaring ikan, masih sering ditemukan ikan belida. Nah lama kelamaan semakin jarang, karena habitatnya juga sudah terpakai untuk perumahan penduduk.

Nah kembali ke judul neh, jadi ceritanya ketika di Palembang saya kok ingin makan kue legit yang 2 jenis ini ya, yaitu engkak ketan dan maksuba. Karena sampai hari ini saya belum tergerak juga untuk membuat sendiri kue-kue ini, walaupun prosesnya mudah, bahan hanya diaduk-aduk tapi proses memanggangnya yang lama yang membuat saya selalu mengurungkan niat.

Kue-kue jenis ini menggunakan telur yang terbilang banyak, lebih dari 10 butir, ya tergantung resep dan loyang sih, jadi karena belum mood membuatnya saya belum memutuskan mau pakai resep yang mana. Selain engkak dan maksuba ini ada juga jenis kue yang legit juga sebut saja lapis kojo dan kue 8 jam. Semuanya legit manis dan eggy secara banyaknya penggunaan telur dan gula eh ditambah lagi susu kental manis. Kalau saya katakan super sweet he he he.. jadi kalau makan tidak boleh banyak-banyak, satu potong atau 2 potong masih wajar, lebih dari itu akan terasa eneg, saya pernah mencobanya dan makan lebih dari 2, sampai mau muntah rasanya... eh tapi besoknya makan lagi tidak kapok, kapoknya banyak-banyak saja.. jadi makan berikutnya tidak berani banyak lagi.

Kalau kue 8 jam ini adonannya dikukus dan penamaan kue ini karena waktu memasaknya yang 8 jam, duh kebayang kan lamanya. Dulu ibu saya cukup sering membuat kue 8 jam ini. Tapi sudah lama tidak pernah lagi. Kue ini tidak dibuat berlapis, jadi adonan sekali saja masuk loyang, dan ketika sudah 8 jam adonan akan memadat.

Jadi saya pesan ke adik saya, nanti kamu pulang kerja belikan maksuba dan engkak ya, sedikit saja, kalau bisa potongan yang paling kecil saja. Ealah ketika dia pulang, loh kok banyak, masing-masing dibelinya setengah loyang.. waduh..

Nah saya bawa pulang ke Batam, dan eng ing eng, saya tahu sih kalau bapaknya Sophie sangat tidak menyukai maksuba ini, tapi saya coba lagi menawarinya, secara itu kan dulu, sudah beberapa tahun lalu, siapa tahu berubah selera. Lalu saya potong ukuran kecil dan saya katakan cobalah.. lalu dia mengambil sepotong, tapi belum sempat masuk mulutnya dia langsung batal makan, katanya bau kue ini merupakan bau yang paling dia tidak suka sedunia.. ha ha ha...

Tapi komentarnya tentang engkak, nah... kalau yang ini baru enak.. tidak terlalu bau telur... Hmm karena engkak ada campuran santannya kali ya.. jadi sedikit mengurangi aroma telurnya. Kalau saya.. suka semua kakak.. Sophie sama seperti bapaknya, tidak suka maksuba, sukanya engkak.

Kedua jenis kue ini saya simpan di kulkas, nah untuk maksuba walaupun di kulkas tetap lembut walaupun sedikit padat, kalau engkak sedikit keras walaupun tetap empuk, nah loh.. bahasanya..

kue khas palembang engkak maksuba

Ok deh, begitu saja ya cerita saya, kali ini tidak berbagi resep dulu, he he he.. yang penasaran dengan engkak dan maksuba, boleh browsing-browsing.

Oh iya, catatan neh : yang berwarna lebih gelap adalah engkak ketan, sedangkan yang berwarna terang adalah maksuba.


Sippp... sampai jumpa di postingan selanjutnya ya.. terima kasih.

Tuesday, February 21, 2017

Rujak Mie Palembang Wong Kito



rujak mie palembang

Apa sih salah satu item yang ada di kulkas orang Palembang? hi hi hi ada yang jawab cuko tidak? tepat, begitulah jawabannya. Jadi selagi bisa menyimpan cuko, maka menjadi sangat mudah untuk membuat makanan pendamping si cuko ini. Nah itulah yang saya lakukan, ketika beberapa waktu yang lalu membuat pempek ikan tuna, maka hari berikutnya saya membuat cuko lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Hmmm cuko tersebut saya simpan di kulkas.

Jadi ceritanya kok ingin makan rujak mie ya, rujak mie yang simple saja, yang tanpa pempek. Walaupun memang saya itu seringnya makan rujak mie dengan pempek. Seperti yang pernah saya posting di sini di rujak mie khas Palembang.

Nah yang bukan orang Palembang tentu bingung kan dengan makanan satu ini. Memang makanan satu ini tidaklah terkenal seperti halnya pempek, tekwan atau model. Tapi rujak mie ini juga menjadi makanan selingan yang disukai orang Palembang. Rasanya segar, asam dan tentu saja pedas dan yang tidak ketinggalan mengenyangkan tentu saja.

Nah kalau membuat makanan begini, saya tidak yakin bapaknya Sophie akan suka, jadi supaya aman saya buat saja satu porsi untuk saya sendiri. Kebayang kan kalau membuat banyak, bisa keblenger saya menyantapnya sendirian, mau cari korban yang mau membantu saya, jadi menambah pekerjaan donk.. jadi buat saja sedikit, walaupun saya gatal rasanya ingin membuat banyak he he he...

Membuatnya tentu sangat mudah ya, yang agak lama mungkin membuat cukonya, itu kalau belum ada stok cuko di kulkas. Nah kalau ada stok cuko, tentu tidak butuh lama untuk membuat rujak mie ini, hanya perlu merebus mie telur, menyiapkan tauge dan timun serta menggoreng tahu. Setelah semuanya beres, tinggal disatukan di piring, sikat bikcek..

Aih jadi ingat dengan kata bikcek ini, dulu itu semasa sekolah, sesama kita teman perempuan suka sekali memanggil bikcek. Misalnya saja, ini cakmano bikcek? atau bikcek, jangan cak itu.. jadi sudah sangat lazim mendengar dan mengucapkan kata bikcek ini. Untuk ke teman laki-laki kita menyebutnya mangcek. Nah yang memperhatikan warung-warung pempek sering sekali memakai kata pempek cek liza misalnya, atau cek- cek lainnya nama perempuan. Nah cek ini sendiri saya bingung juga artinya apa he he he... tapi kalau bikcek itu artinya bibi atau tante, nah mangcek itu artinya paman.

Kalau bicara bahasa Palembang, pasti orang yang tidak terbiasa akan mengatakan bahasa Palembang itu kasar he he he, memang sih kasar, tapi bagi sesama orang Palembang ya biasa saja. Misalnya saja sebutan anda, di tempat lain secara umum akan mengatakan kamu, nah di Palembang dengan santainya menyebut kau. Ahai orang yang baru pertama kali dengar pasti sudah mabok mendengarnya, apalagi kalau sempat di kau-kau oleh orang Palembang.

Tapi orang Palembang itu cukup tahu diri kok, begitu sudah ketemu suku lain, akan mencoba tidak menggunakan kata kau itu, kecuali kelepasan he he he... Jadi jangan anggap orang Palembang itu kasar, semua orang disebut kau. Saya sendiri kakak beradik, sampai sekarang walaupun kami sudah terpisah jarak, saya di Batam, big bro saya di Bandung, little bro saya di Jambi, adik perempuan saya di Palembang, ketika berbicara sesama kami, kami tetap menggunakan bahasa Palembang dengan tentu saja tidak ketinggalan kata kau... dan itu hal biasa bagi kami, tidak ada yang menganggap kasar. 

Dulu itu saya ingat waktu SMU ya, ada teman satu kelas pindahan dari Jawa, nah hanya beberapa waktu saja dia berbicara bahasa Indonesia, dan ketika kami mendengar satu kata bahasa Palembang keluar dari mulutnya, kami semua bersorak, akhirnya..he he he... dan tidak berapa lama kemudian, dia sudah sangat lancar berbicara bahasa Palembang.

Dan ada suatu anggapan di sana itu, kalau kita berbicara sesama teman tanpa menggunakan bahasa Palembang kita akan dianggap sok. Hmmm ingat juga dulu ketika sudah mulai kuliah, lalu ada beberapa teman memang kuliahnya tidak di Palembang, termasuk saya. Nah ketika pulang liburan kuliah ketemu dengan teman SMU, karena masih baru ya.. jadi tentu saja bahasa Palembang saya masih kental, jadi saya tidak dikatakan sok oleh teman yang lain. Nah kebetulan ada juga teman yang pulang dan ketika berbicara sudah tidak bisa lagi bahasa Palembang, ha ha ha... tentu saja sebutan sok itu sudah melekat pada dirinya.

Tapi itu dulu ya... sekarang saya perhatikan malah sudah umum mencampur bahasa Palembang dan bahasa Indonesia dan tentu saja bahasa Jawa, sudah sangat lazim he he he... 

Okeh deh.. saya ngelantur lagi... berikut langsung ke resep ya.. silakan...

Rujak Mie

Bahan :
  • 75 gr mie telur, rebus sampai empuk, angkat, sisihkan
  • irisan timun secukupnya
  • 2-3 buah tahu goreng, potong-potong
  • segenggam tauge, cuci bersih dan tiriskan
  • cuko secukupnya sesuai selera
  • ebi sangrai halus jika suka (saya tidak pakai)

Cara membuat :
Tata mie telur di piring, beri tauge, timun dan potongan tahu, siram dengan cuko, siap disantap


Resep cuko tanpa ebi
Bahan :
  • 200 gr gula merah/gula aren  (saya gunakan gula batok)
  • 400 ml air
  • 8 siung bawang putih
  • 20 butir cabai rawit (sesuaikan dengan selera jumlahnya)
  • 3 sendok makan asam jawa
  • 1/2 sendok teh garam
Cara membuat :
Potong kecil gula merah, campur dengan air dan asam jawa, rebus hingga mendidih, saring. Masukkan kembali ke dalam panci, masukkan cabai rawit dan bawang putih yang sudah dihaluskan, masak hingga mendidih, tambahkan garam, aduk rata, cicipi rasanya. Angkat dan biarkan dingin, saring., siap digunakan. Masukkan ke dalam kulkas jika cuko akan diinapkan.


resep rujak mie palembang mudah

Nah semoga resep rujak mie khas Palembang wong kito galo ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...



Selamat mencoba...



Tuesday, February 7, 2017

Pindang Ayam Kemangi (Palembang)



resep pindang ayam kemangi

Kemarin itu kok ya kepikiran mau makan pindang ayam kemangi ini, itu loh masakan pindang khas Palembang. Mungkin karena sudah lama tidak makan kali ya, jadi ingin makan atau mungkin karena ingin makan yang tidak begitu berat.

Kalau di Palembang sendiri, masakan pindang bisa macam-macam jenisnya, sebut saja pindang tulang yang memang sangat terkenal, lalu pindang udang, pindang ikan patin yang biasanya dicampur juga dengan tempoyak dan tentu saja pindang ayam.

Selain itu ikan gabus pun enak dijadikan pindang. Nah kalau dulu kecil, biasanya ibu saya sering masak pindang ikan gabus. Aih dulu saya masih suka makan ikan gabus, nah sekarang entahlah, saya tidak mau lagi makan ikan gabus, kecuali ikan gabusnya diolah menjadi pempek, padahal kalau membayangkan makan pempek ikan gabus agak geli tapi berusaha tidak memikirkannya, lanjut terus makan... pura-pura tidak tahu ha ha ha...

Kalau ikan patin, sampai sekarang saya juga tidak mau makan, jadi kalau ibu saya masak pindang ikan patin atau pepes ikan patin, hmmmm lewat saja deh...pass dulu.. tapi ibu saya dan adik saya suka dengan olahan ikan patin ini. Jadi sampai sekarang saya belum pernah masak ikan patin sendiri he he he.. namanya juga selera ya... beda orang beda selera.

Kalau saya tetap pindang ikan tongkol adalah favorit, nih saya pernah posting resep pindang kuning ikan tongkol di blog ini. Oh iya dulu saya pernah posting resep pindang ayam ini, tapi waktu itu buat versi diet rendah garam, secara memang garamnya dikurangi. Nah pindang ayam ini memang cocok untuk diet karena memang memasaknya tanpa minyak. Ikan bisa diganti dengan ikan-ikanan sesuai selera.

Membuatnya juga sangat mudah, bumbu hanya diiris, dan menjadikan masakan ini masakan yang ringan. Nah tadinya saya ingin mencampur irisan cabai rawit atau cabai rawit utuh di pindang ini, tapi berhubung saya mau Sophie juga makan, jadi saya buat sambal cabai rawit terpisah saja. Ealah tapi tetap saja Sophie tidak mau makan ayam kuah. Hmmmm ujung-ujungnya telur ceplok lagi buat dia.

Sambal cabai rawit yang saya buat mentah saja, hanya bawang putih, cabai rawit dan garam, begitu sudah dihaluskan masukkan ke mangkuk, beri air jeruk nipis. Aihhh dulu sambal begini adalah favorit saya. Kalau ibu saya membuat bandeng bakar, sambalnya sambal begini saja. Tapi nikmatnya beuh.... terkenang sampai sekarang, jadi takana jo kampuang ini.

Nah untuk pindang ayam kemangi ini saya buat menggunakan dada ayam tanpa kulit ya, kalau di pasar di Batam ini disebut ayam sate. Jadi biasanya kalau mau membeli khusus dada ayam, selalunya beli ayam sate, dada ayam saja tanpa sayapnya, tapi masih berkulit sih. Nah kulitnya tinggal dibuang saja kalau mau.. dan biasanya memang saya tidak pernah menggunakan kulitnya untuk dada ayam begini. Selalunya saya stok dada ayam begini, jadi sewaktu-waktu butuh tinggal gunakan, apalagi kalau ada request ayam kupuk kecil (popcorn chicken ala2).

Sippp ah... lanjut ke resep ya sekarang, ini dia..silakan..

Pindang Ayam Kemangi (Palembang)

Bahan :
  • 500 gr dada ayam tanpa kulit, potong-potong kecil
  • 3 buah tomat ukuran kecil, potong-potong
  • 1 batang daun bawang, potong melintang ukuran kurang lebih 1-2cm
  • 3 butir asam kandis
  • 2 genggam daun kemangi
  • 1 sendok teh garam
  • 1 ruas jahe, memarkan
  • 1 ruas lengkuas, memarkan
  • 1 batang serai, ambil bagian putihnya, memarkan
  • 2 lembar daun salam
  • 1000 ml air

Bumbu iris :
  • 4 butir bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 3 cm kunyit

Cara membuat :
Didihkan air, masukkan bumbu iris, jahe, lengkuas, daun salam, serai dan asam kandis, biarkan lagi hingga mendidih sekali lagi, masukkan potongan ayam, masak hingga ayam matang, tambahkan tomat dan daun bawang, beri garam, aduk rata, cicipi rasanya. Begitu sudah pas rasanya, sesaat sebelum diangkat masukkan kemangi, matikan api, siap dihidangkan.



Nah semoga resep pindang ayam kemangi (Palembang) ini bisa bermanfaat ya, silakan mencoba dan semoga cocok dengan selera ya...

Temukan resep pindang-pindang lainnya di label kategori pindang ya.... ini dia... pindang



Selamat mencoba...